Kirab Gunungan Apem ke 13 Kampung Gendeng
Kampung Gendeng Kelurahan Baciro kembali menggelar Kirab Gunungan Apem dalam rangka tradisi Ruwahan. Tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun ke-13, sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya pelestarian budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Kirab berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Sejak pagi hari, warga memadati ruas-ruas jalan kampung untuk mengikuti pawai.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak, remaja, hingga warga lanjut usia turut ambil bagian. Peserta pawai mengenakan busana tradisional, membawa hasil bumi, serta menampilkan beragam kreasi seni dan budaya.
Iringan musik tradisional, atraksi kesenian, hingga kostum tematik menambah semarak suasana, menjadikan kirab sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus ajang mempererat kebersamaan warga.
Kirab dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, jajaran DPRD Kota Yogyakarta, serta Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan pawai keliling kampung sebelum gunungan dirayah oleh masyarakat.
Ketua Panitia, Fajar Ristanto, menyampaikan bahwa tahun ini telah menyiapkan dua gunungan untuk diarak berkeliling kampung, yakni Gunungan Lanang dan Gunungan Wedhok yang berisi apem serta ketan kolak, sesuai dengan tradisi Ruwahan.
“Dua gunungan ini nanti diperebutkan masyarakat. Karena ini momentum Ruwah, maka kita fokus pada makna syukur dan doa,” jelasnya saat ditemui saat kirab di RTHP Fasilitas Umum Baciro, Minggu (15/2/2026).
Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah dilaksanakan dengan doa bersama, kembul bujono, serta tabur bunga di makam para pinisepuh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang dilaksanakan sebelumnya pada Sabtu (14/2/2026).
Fajar juga mengisahkan sejarah singkat Kampung Gendeng yang dahulu merupakan wilayah kecil dengan kolam-kolam ikan dan tegalan. Nama-nama gang seperti Lele, Mujair, hingga Tawes menjadi jejak sejarah tersebut.
“Kampung Gendeng ini dulu termasuk kampung yang sangat kecil karena mulai tahun 40-an baru ditinggali. Awal mulanya di sini ada kolam-kolam ikan. Makanya banyak nama gang Lele, Mujair, Tawes dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Selain itu, kawasan ini juga merupakan tegalan atau tanah kering yang ditanami ketela, sukun, dan tanaman kebun lainnya secara konvensional. Kini, Kampung Gendeng telah berkembang pesat dengan 35 RT, 7 RW, dan sekitar lebih dari 1.900 kepala keluarga.
“Kegiatan ini satu tahun sekali. Harapannya semua pihak dapat ambil bagian karena ini nguri-uri kabudayan yang tidak boleh kita tinggalkan dan harus tetap kita lestarikan. Semua pihak dapat bersatu padu berjalan seiringan dengan pengurus dan event yang akan dilakukan di tahun yang akan datang,” tutup Fajar.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Kampung Gendeng dalam menjaga tradisi selama lebih dari satu dekade.
“Kulo ngaturaken apresiasi sanget dhumateng warga Kampung Gendeng. Menika mboten namung acara seremonial, nanging tradisi ingkang dipun rawat kanthi gotong royong lan kebersamaan. Inilah kekuatan budaya Kota Yogyakarta,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi Ruwahan mengandung makna bersih lahir dan batin, yang juga tercermin dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
“Tradisi ruwahan niki simbah-simbah riyen mestani bersih-bersih. Bersih niku artine resik. Saya berharap di Kota Yogyakarta jangan ada rumput liar, jangan ada sampah liar. Semua kita bersihkan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi kuatnya semangat gotong royong warga Kota Yogyakarta yang dinilainya tetap terjaga meski berada di wilayah perkotaan.
“Gotong royong masyarakat luar biasa. Sanajan wong kuto, ning teseh sae anggenipun gotong royong. Alhamdulillah,” tuturnya.




